Dumai – Sosiolog soal Meningkatnya Angka perceraian di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan fenomena yang cukup mencolok, yaitu banyaknya istri yang menggugat cerai suami. Menurut data yang dirilis oleh Pengadilan Agama Palangka Raya, sejak tahun 2023, tercatat lebih dari 60% kasus perceraian yang masuk berasal dari istri yang mengajukan gugatan terhadap suami mereka.
Peningkatan angka perceraian ini menarik perhatian berbagai pihak, terutama para sosiolog yang menilai fenomena ini sebagai sebuah dinamika sosial yang memerlukan perhatian lebih, baik dari segi budaya, ekonomi, maupun hubungan gender dalam masyarakat. Fenomena ini tidak hanya menjadi isu hukum dan keluarga, tetapi juga mencerminkan perubahan besar dalam pola pikir dan struktur sosial masyarakat Kalteng, khususnya terkait dengan peran perempuan dalam rumah tangga.
Sosiolog soal Meningkatnya Fenomena Meningkatnya Istri Gugat Cerai: Sebuah Realitas Sosial
Sosiolog dari Universitas Palangka Raya, Dr. Ahmad Hidayat, menyebutkan bahwa meningkatnya jumlah istri yang menggugat cerai suami merupakan cerminan dari perubahan dalam struktur sosial dan pola hubungan gender di Kalimantan Tengah. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya fenomena ini.

Baca Juga : SSB Bhutas Dumai Mantapkan Misi Cetak Generasi Emas Sepak Bola Lewat Pembinaan Usia Dini
“Perubahan status perempuan dalam masyarakat, yang semakin mandiri dan berpendidikan, memainkan peran penting dalam fenomena ini.
“Perempuan kini lebih sadar akan hak mereka untuk hidup dengan sejahtera dan bahagia. Jika hubungan pernikahan mereka dianggap merugikan atau tidak lagi menguntungkan, mereka tidak ragu untuk mengambil langkah tegas, yaitu menggugat cerai,” tambahnya.
Faktor Ekonomi dan Stres Sosial
Salah satu faktor yang turut memperburuk hubungan rumah tangga dan menjadi salah satu pemicu perceraian adalah masalah ekonomi. Di Kalteng, sebagaimana di banyak daerah lainnya, masalah finansial sering kali menjadi penyebab utama ketegangan dalam rumah tangga. Ketidakmampuan suami untuk memberikan penghidupan yang layak, atau ketidakadilan dalam pembagian peran di dalam rumah tangga, sering kali menjadi pemicu perselisihan.
Selain itu, fenomena sosial yang terjadi seiring dengan perubahan budaya juga turut mempengaruhi keputusan perceraian. Sebagian besar masyarakat Kalteng, yang sebagian besar bermatapencaharian di sektor pertanian, dulunya menganggap perceraian sebagai sebuah aib. Namun, kini pandangan tersebut mulai bergeser seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan pemahaman akan hak-hak pribadi, terutama di kalangan perempuan.
Perubahan Peran Gender di Kalteng
Perubahan yang terjadi dalam peran gender juga sangat berpengaruh terhadap meningkatnya angka perceraian di Kalteng.
“Sebelumnya, perempuan lebih cenderung bergantung pada suami secara ekonomi. Namun, saat ini perempuan semakin banyak yang memiliki penghasilan tetap dan bahkan mengelola bisnis mereka sendiri. Dengan adanya kemandirian ini, perempuan merasa memiliki kemampuan untuk memilih jalan hidup yang lebih baik, termasuk dalam memilih untuk berpisah dari suami yang tidak lagi memenuhi harapan atau bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga,” ujar Dr. Hidayat.
Selain itu, media sosial juga berperan dalam mempercepat perubahan ini. Banyak perempuan yang terpapar informasi mengenai hak-hak mereka sebagai individu dan pasangan dalam pernikahan. Hal ini memberikan mereka kekuatan untuk berbicara dan memperjuangkan hak-hak mereka dalam kehidupan rumah tangga.
Dampak Sosial dan Psikologis
Menurut Dr. Maria Sari, perceraian dapat menyebabkan stres psikologis baik pada suami, istri, maupun anak-anak. “Anak-anak, misalnya, sering kali merasa bingung dan terluka ketika orang tuanya bercerai. Mereka mungkin merasa terabaikan atau merasa terpecah antara kedua orang tua mereka.
Solusi dan Rekomendasi
Selain itu, Dr. Maria Sari menekankan pentingnya penyediaan layanan konseling dan dukungan bagi pasangan yang menghadapi masalah dalam rumah tangga. “Layanan konseling bisa membantu pasangan untuk menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang lebih sehat, tanpa harus berakhir dengan perceraian,” tambahnya.
Kesimpulan
Semoga, masyarakat dapat lebih bijak dalam menghadapi dan menyikapi dinamika rumah tangga yang semakin kompleks.
