Dumai – Tragis Pasutri Diserang seekor ular piton sepanjang 7 meter saat dirinya bersama istrinya, Siti Nurjanah (38), tengah mencari kayu di hutan. Peristiwa mengerikan ini terjadi di kawasan hutan Desa Rantepao, Kecamatan Malili, sekitar pukul 14.00 WITA.
Tragedi ini bukan hanya mengguncang keluarga korban, tetapi juga masyarakat sekitar yang selama ini tidak pernah menduga akan ada serangan ular sebesar itu. Penyebab utama dari kecelakaan ini adalah serangan mendadak dari piton besar yang keluar dari sarangnya dan menyerang pasangan suami istri yang tengah berada di lokasi tersebut.
Tragis Pasutri Diserang Piton yang Tak Terduga
Menurut keterangan yang diperoleh dari pihak kepolisian setempat, kejadian berawal ketika Budi dan Siti tengah berjalan di kawasan hutan yang jarang terjamah. Mereka sedang mengumpulkan kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Tidak lama setelah mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan, tiba-tiba ular piton yang bersembunyi di semak-semak menghampiri mereka.
Budi yang saat itu berjalan di depan, tidak menyadari kehadiran ular piton tersebut hingga akhirnya piton besar itu melilit tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa. Piton yang panjangnya diperkirakan mencapai 7 meter ini langsung melilitkan tubuhnya ke tubuh Budi, membuatnya tidak bisa bergerak. Siti yang panik dan berusaha membantu suaminya, berusaha melepaskan lilitan ular tersebut, namun usahanya sia-sia.
“Saat saya lihat, ular itu sudah melilit tubuh suami saya. Dia sempat berteriak minta tolong, tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa melihatnya kesakitan,” ujar Siti dengan mata berkaca-kaca saat dimintai keterangan oleh petugas kepolisian.
Penyelamatan yang Gagal dan Budi Tewas

Baca Juga : Pilu Anak Asal Tasikmalaya Jadi Jaminan Utang Rp 25 Ayahnya di Gresik
Siti yang tidak berdaya segera berlari mencari bantuan. Setelah beberapa saat, warga sekitar dan petugas datang ke lokasi dan berusaha melepaskan lilitan ular piton yang sudah sangat kuat. Namun, upaya penyelamatan itu terlambat. Ketika berhasil memotong bagian tubuh ular yang melilit, Budi sudah dalam kondisi tak bernyawa.
Kapolsek Malili, Kompol Abdul Rahman, menjelaskan bahwa piton tersebut berhasil diatasi oleh tim penyelamat yang datang ke lokasi. “Setelah beberapa menit berjuang, tim berhasil mengatasi ular tersebut dan membebaskan tubuh korban. Sayangnya, kondisi Budi sudah sangat kritis dan akhirnya meninggal dunia di tempat,” kata Kompol Abdul Rahman.
Piton tersebut, setelah berhasil dilumpuhkan, kemudian dievakuasi oleh pihak berwenang. Hewan itu akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Diperkirakan piton tersebut memang memangsa mamalia besar di daerah sekitar hutan, yang sering menjadi tempat tinggal ular piton.
Reaksi Warga dan Kerugian yang Ditanggung Keluarga
Kabar kematian Budi yang dililit piton segera menyebar ke seluruh desa. Warga setempat merasa terkejut dan berduka cita atas kejadian yang sangat tragis ini. Mereka menyatakan bahwa serangan ular piton seperti ini sangat jarang terjadi, meskipun daerah tersebut dikenal memiliki populasi ular besar.
Imanuddin, seorang tetangga yang mengenal baik Budi dan Siti, mengungkapkan perasaannya yang sangat sedih. “Budi adalah orang yang baik. Dia selalu membantu orang lain. Kami semua sangat kehilangan. Ini kejadian yang sangat jarang di sini, kami tidak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi pada mereka,” ujarnya.
Pihak keluarga juga merasa sangat terpukul atas kejadian tersebut. Siti, yang kini menjadi janda dengan dua anak yang masih kecil, mengungkapkan bahwa dia sangat kehilangan sosok suaminya yang sangat penyayang dan pekerja keras. “Suami saya adalah orang yang selalu bekerja keras untuk kami. Kami tidak tahu harus bagaimana sekarang tanpa dia,” kata Siti sambil menahan tangis.
Faktor Lingkungan dan Kehidupan Ular Piton di Lutim
Hutan di kawasan Luwu Timur memang dikenal dengan kekayaan alamnya, namun juga memiliki risiko yang tak terduga. Kawasan tersebut merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan liar, termasuk ular piton yang bisa tumbuh hingga panjang lebih dari 7 meter. Keberadaan ular piton memang sering kali menjadi perhatian masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di area hutan.
Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan menyatakan bahwa piton memang bukan jenis ular yang agresif, namun apabila merasa terancam, ular tersebut bisa menyerang untuk melindungi dirinya. “Piton biasanya memangsa hewan-hewan kecil hingga besar, tergantung ukuran ular tersebut. Mereka tidak sering berinteraksi dengan manusia, namun jika manusia berada di jalur mereka atau mengancam, mereka akan membela diri,” kata Dr. Andi Hidayat, seorang ahli fauna dari BKSDA.
Peringatan untuk Warga dan Pengawasan Hutan
Pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat mengingatkan agar masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan lebih berhati-hati. “Kami mengimbau kepada warga untuk selalu waspada saat memasuki kawasan hutan, terutama di area yang jarang terjamah. Ini adalah peringatan bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam beraktivitas di alam terbuka,” kata Kompol Abdul Rahman.
Selain itu, pihak BKSDA juga akan meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan ular piton di area-area rawan. Mereka mengimbau agar masyarakat segera melaporkan jika menemukan ular besar di sekitar pemukiman atau lokasi kegiatan.
Tanggapan Pemerintah dan Rencana Bantuan
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban dan berjanji akan memberikan bantuan. Bupati Luwu Timur, Irwan Yasin, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh kepada keluarga yang ditinggalkan, baik dalam hal keuangan maupun psikologis. “Kami berdukacita atas peristiwa ini dan akan memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh keluarga korban. Kami juga akan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” ungkap Irwan.
Bantuan dari pemerintah juga akan meliputi penanganan korban lain yang mengalami trauma psikologis, serta dukungan terhadap anak-anak Budi dan Siti yang kini harus melanjutkan hidup tanpa orang tua.
Kesimpulan: Tragedi yang Mengingatkan Kita Akan Bahaya Alam
Kejadian tragis ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang potensi bahaya yang bisa muncul dari alam, terutama bagi mereka yang bekerja atau beraktivitas di daerah hutan yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan liar.
Serangan ular piton yang melilit tubuh korban menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan dan pengetahuan mengenai kondisi alam sekitar, serta perlunya kehati-hatian dalam melakukan aktivitas di luar rumah.
Dengan kejadian ini, diharapkan masyarakat dapat lebih berhati-hati dan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang dalam menjaga keselamatan bersama. Semoga keluarga yang ditinggalkan oleh Budi diberikan kekuatan, dan kejadian ini menjadi pelajaran untuk semua orang agar selalu waspada terhadap bahaya yang tidak terduga dari alam.
